ANGKATAN 12
PASKIBRA SMA NEGERI 01 KALIREJO ANGKATAN 12
Rabu, 25 Januari 2017
Senin, 05 September 2016
Assalamuallaikum...wr.wb
Sejarah Paskibra Indonesia
Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota
Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI
yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor
(Laut) Husein
Mutahar, untuk menyiapkan
pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat
itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran
bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air,
karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.
Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin
terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan
2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di
Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun
1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang
sama.
Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta
pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka.
Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan
oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para
pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.
Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil
presiden saat itu, Soeharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar
dari pelaksanaan tahun 1946di Yogyakarta, dia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok
yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:
·
Pasukan 17 / pengiring (pemandu),
·
Pasukan 8 / pembawa bendera (inti),
·
Pasukan 45/pengawal.
Idik Sulaeman, Sang Pencetus Istilah
Paskibraka
Jumlah tersebut merupakan simbol dari
tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi
kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi
anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula,
untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda
ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO, dan Brimob) juga tidak mudah.
Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah
dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.
Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah
para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih
harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.
Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung
upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah
Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat
I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai
dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun
Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta,
sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang
dikibar/diturunkan.
Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar
bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan
dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang
remaja putra dan putri.
Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera
Pusaka. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan
suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka. PAS berasal dari PASukan,
KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan
KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut
Paskibraka.
Thank you....
Wassalamulallaikum...wr.wb.
Langganan:
Komentar (Atom)




PELANTIKAN CAPAS
PELANTIKAN SENIOR
